Men and Their Mysteries

Saya ingat sekali, dulu waktu awal menikah saya sempat bingung dan terkejut dengan kebiasaan-kebiasaan Pak Suami. Lalu, banyak orang (termasuk orangtua saya) yang bilang bahwa yang namanya pernikahan itu perlu penyesuaian satu sama lain. Istilahnya butuh waktu, deh, untuk saling beradaptasi dengan status pernikahan.

Delapan tahun berselang, sampai saat ini masih ada beberapa kelakuan suami yang bikin saya garuk-garuk kepala dan #gagalpaham. Ini dia top 3 di antaranya:

Kecintaannya pada sepakbola

Bukan, bukan untuk main sepakbola. Tapi menonton. Ya ampun, kalau sudah akhir pekan, jadwal bepergian kami sekeluarga harus disesuaikan dengan jadwalnya menonton sepakbola!

Kami baru bisa keluar rumah di atas jam 12 siang (karena begadang, biasanya Pak Suami baru ‘sadar’ jam 11 siang), lalu di jam 3 sore ia akan memburu-buru kami untuk segera pulang. Kenapa? Karena pada jam 4 sore biasanya ada pertandingan sepakbola Indonesia. Tapi Alhamdulillah ya, sejak Piala Presiden tahun 2015, pertandingan disiarkannya lebih lambat yaitu sekitar jam 5 sore.

Nah, dari jam 5 sore, terus, deh, tuh sepakbola tanpa henti sampaii…. Besok paginya!

Ya, Pak Suami bukan hanya penggemar sepakbola liga tertentu, tapi hampir semua siaran sepakbola dia nonton. You name it, mulai dari Liga Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Jerman, Indonesia, sampai pertandingan sepakbola kelas gurem bakal dia tonton dengan khusyuk!

Tak cukup sampai di situ, Pak Suami juga sangat (amat sangat) menikmati siaran berita olahraga. Baginya, menonton kemenangan Liverpool (klub sepakbola kesayangannya) saat pertandingan berlangsung belum cukup. Ia masih harus menonton pembahasannya di siaran berita olahraga.

Adakah yang bernasib sama dengan saya?

Membalas pesan teks secara singkat

“Kamu di mana? Jadi meeting hari ini?

“Jadi”

Kalau ditilik kan pertanyaannya ada dua’, ya, tapi biasanya Pak Suami hanya membalas SATU pertanyaan yang saya lontarkan. Alhasil, kalau ditanya lagi masalah ‘di mana’, dia bakal bilang saya cerewet. Padahal ‘kan saya bertanya lagi karena ia hanya menjawab SATU pertanyaan.

Lain halnya kalau Pak Suami yang bertanya:

“Kamu di mana?”

“Di kantor, nih, lagi mau miting. Nanti pulangnya agak telat kayanya, mau ketemu sama si A, kamu balik jam berapa?”

Nah ‘kan, entah kenapa secara otomatis saya akan membalas secara lengkap dan panjang kepada Pak Suami. Padahal nanti ujungnya Pak Suami membalasnya hanya dengan “Di kantor,” titik.

Kalau merujuk pada berbagai penelitian bahwa perempuan berbicara lebih banyak daripada laki-laki, saya jadi bertanya-tanya, apakah berlaku juga pada komunikasi lewat teks?

texting

Sindrom Bayi Gede

Kalau lagi sakit, siapa yang tingkah Pak Suami-nya bak bayi gede?

Tidur seharian, minta makan yang paling dia suka, nggak boleh berisik, pulang kantor harus on time, pokoknya nggak boleh salah! Belum lagi dengan manjanya yang minta ampun, nggak salah kalau Pak Suami sakit, saya menjulukinya dengan sebutan Bayi Gede. Habis, berasa punya bayi, sih. Hehe..

Tapi berdasarkan beberapa artikel yang pernah saya baca, kondisi ini memang dipicu oleh hormon testosteron yang menguasai sebagian besar tubuh lelaki. Entah bagaimana caranya, semakin tinggi hormon ‘kelaki-lakian’ yang mereka miliki, maka semakin mudah tubuh mereka terserang penyakit.

Selain itu, secara psikologis, biasanya lelaki dituntut untuk tampil macho, perkasa, pemimpin keluarga, pokoknya kuat! Makanya, biasanya saat sakitnya masih ringan, mereka nggak merasakan. Begitu ‘tumbang’ itu berarti tubuhnya memang sudah sangat lemah.

marriage-adopting

Kalau mau diambil positifnya, sih, saat mereka sakit ini justru menjadi momen di mana Pak Suami yang biasanya jadi tempat kita bermanja-manja, malah jadi mereka yang manja. Ini juga momen di mana kita bisa mengerahkan segala perhatian kita padanya.

Tiga hal di atas adalah hal yang sampai saat ini masih belum saya mengerti dari Pak Suami. Kalau akal sehat lagi bicara, maka hobinya nonton bola/membalas secara singkat/bayi gedenya keluar akan saya maklumi. Tapi tak jarang memicu rasa kesal saya, hehe. Misalnya, nih, belanja bulanan yang terburu-buru karena sudah sore dan waktunya pertandingan sepakbola ditayangkan. Akibatnya, banyak barang yang harusnya dibeli jadi nggak kebeli. Huff… kzl!

Tapi ujung-ujungnya, sih, yang namanya pernikahan itu menurut saya nggak ada pihak yang salah atau benar. Yah, saling pengertian dan kompromi saja, deh! Bagaimana dengan Anda? Ada hal yang masih jadi misteri dari suami? (LT)

Advertisements

One comment

  1. I remember I had father who always sent me a single text like “posisi” or “met HUT” x))

    and now I have a step father who can stay silent for like three days, if my mom or me or anyone don’t start the conversation first.

    really. a mystery. x))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: