I Didn’t Say “I Do” for…

Dalam pernikahan, pasti ada janji yang diucapkan. Berhubung dalam keyakinan saya tidak diharuskan untuk mengucap marriage vow, maka tidak ada momen di mana saya dan suami masing-masing ditanya, “Do you take this man/woman as a a lifelong companion, and promise to love him/her from this day forward, for better and worse, for richer and poorer, in sickness and health?”
Tapi, tentunya kami berdua sudah menyepakati hal-hal itu jauh sebelum duduk manis di depan penghulu.
In other words, we said “I do” for those things.
Ya, saya bersedia jadi istri yang baik, manis, dan membahagiakan suami.
Ya, suami bersedia memberikan nafkah yang baik, menjaga jasmani istrinya, dan mendampingi istrinya sepanjang hidup.
Ya, kami akan jadi mentari di hati satu sama lain dan membangun “rumah yang yahud(*)” berhiaskan pelangi dan kupu-kupu.

Ijab kabul kelar, kamipun tinggal satu atap. 7 tahun kemudian, di sinilah saya, terduduk di tengah malam karena mata belum mengantuk, sementara suami ngorok dengan sentosa. Sebelumnya, saya misuh-misuh karena lagi-lagi, dia lupa menurunkan dudukan toilet dan tidak ‘beberes’ sehabis doing his business. Those are the little things, tapi tidak henti-hentinya mengganggu karena terjadi hampir setiap hari! Satu hari di mana suami saya berhasil melakukan seperti yang saya minta, akan menjadi satu hari keberuntungan yang patut dicatat dalam sejarah perkawinan kami. Kebayang ‘kan, ladies?
Memang sih, marriage is for better and for worse, tapi aseli deh, dulu saya tidak bermaksud bilang “I do” untuk

1. The snores.
Malam-malam saya memang tak lagi sepi, tapi siapa yang menyangka kalau penyebabnya adalah dengkuran (tidak) merdu dari sang teman tidur. Memejamkan mata setiap malam jadi tantangan karena pak suami selalu saja terlelap duluan – nggak heran, ‘kan dia tidak perlu melakukan 10 langkah perawatan wajah sebelum tidur.
Urusan berbagi ranjang ini menurut saya susah-susah gampang. Kita bukan cuma perlu belajar membagi tempat istirahat, tapi juga belajar tetap tidur satu ranjang padahal hati sedang kesal dengan si teman tidur.

2. Annoying not-so-little things
Saya bisa menyebut sederet hal yang tergolong kategori ini:
Toilet seat yang tidak pernah diturunkan lagi.
– Kondisi toilet yang ‘apa adanya’ setelah dipakai.
– Gunting kuku yang hilang entah ke mana setelah dipinjam suami.
– Korek kuping atau tusuk gigi bekas yang dibuang seenaknya.
– Sisa makanan yang ditaruh begitu saja dalam kulkas (dan dilupakan sampai berhari-hari kemudian).
Remote TV yang selalu hilang.
– Tumpukan ‘rongsokan’ di garasi yang terdiri dari PC rusak, cat tembok yang dibuang sayang, sepeda yang dipakai 1 kali sebulan, dan alat-alat pertukangan yang berdebu karena disentuh cuma untuk memaku dinding.
And the list can go on and on and on….

3. The lost of “freedom.”
Iya, saya ngerti kalau menikah berarti terikat. Tapi, bebas yang saya maksud adalah bisa menikmati dunia saya (secara mental dan fisik) sendirian saja. Sekarang, selalu ada orang lain di sebelah saya, yang entah menunggu giliran mengambil makanan dari kulkas (maklum, rumah hanya seukuran kotak sabun!), atau tak sabar ingin menguasai remote saat saya nonton ANTM. Bahkan, kalau saya sedang “me time” di toilet agak lama sedikit, sudah ada yang sibuk menggedor-gedor (“Keluarin cukuran aku, dong! Eh iya sekalian handuk!”)
Meskipun begitu, sebenarnya yang saya butuhkan bukannya ‘space’ untuk diri sendiri, sih, tapi… belajar berbagi, kali ya, dengan orang yang akan jadi tua bersama saya? (Aamiiin.)

4. Nggak punya financial independence a.k.a. bisa membelanjakan uang semau gue!
Setelah menikah ‘kan income kami di-pool jadi satu, otomatis saya perlu bikin semacam-justifikasi sebelum mau beli sesuatu. Apalagi untuk barang yang tergolong mahal menurut pak suami. Padahal kayaknya buat dia, hampir semua barang di wish list saya tergolong mahal dan “nggak perlu.” -__-
Akibatnya, saya jadi harus mikir panjang sebelum beli sesuatu. Paling tidak, mikirin pembenaran kenapa saya perlu membeli sebuah baranglah!
Tapi ya memang, lama-lama prioritas saya pun bergeser; kini saya rela mengorbankan keinginan beli sepatu atau tas baru setiap 2 bulan demi cita-cita luhur bersama seperti mencicil rumah.

5. Nggak bisa travelling sesering teman-teman saya yang single.
Dengan adanya cicilan ini-itu, kebutuhan membayar sekolah anak, dan “cita-cita luhur” lainnya, sekarang hasrat bertualang kami cukup diwujudkan lewat acara Anthony Bourdain atau The Amazing Race, hiks.

6. Keharusan menambah anak.
Kalau soal ini, sih, memang datang dari pihak luar, bukannya suami. But really, I didn’t get married just to have kids every two or three years!

7. Buyarnya angan-angan that he will be my prince charming and we will be madly in love forever.   
Am I sad or glad for this? Awalnya, ya nggak senang menerima fakta ini. Tapi seiring waktu, saya tersadar kalau nggak ada orang yang nggak berubah. Malahan ada kebutuhan untuk berubah dan bertumbuh bersama supaya pernikahan nggak mandek.
Dan juga janji kami untuk membangun “rumah yang yahud(*)” bersama-sama, cuma bisa diwujudkan dengan memangkas ego sebanyak-banyaknya. Saya nggak bisa mikirin apa mau saya aja, dan juga nggak bisa ‘idealis’ karena ternyata,  marriage is about bending the rules and being flexible.

Hmm, kalau begitu, kesimpulannya saya nggak perlu membuat revisi janji pernikahan, dong ya?
*memencet tombol flush di toilet*

(RT)

(*): “Rumah yang Yahud” adalah judul lagu milik band Naif.

Advertisements

One comment

  1. Hihihihihihh… ini curahan hati semua istri sedunia…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: