If I Were a Working Dad…

How did you spend your Monday morning, ladies?
Apakah dimulai dengan membangunkan anak, lalu tergesa-gesa memasukkan tas dan perlengkapan sekolah ke mobil, sambil sibuk mengecek apakah ada yang ketinggalan?
Because that’s what I did! Hampir setiap pagi…

Selama di kantor, saya tak pernah lupa menelpon ke rumah untuk ngobrol dengan mbak ART tentang menu apa yang perlu dieksekusi hari itu, pekerjaan rumah mana yang perlu di”fokus”kan, serta memberi instruksi ini dan itu. Kemudian saat anak sudah pulang sekolah, saya akan menelpon lagi untuk chit-chat sebentar, tak lupa mengingatkan anak agar mandi-tidur siang-makan buah-latihan musik-dan seterusnya.

Sepulang dari kantor, saya akan mengecek tugas sekolah anak, melakukan ritual-sebelum-tidur, dan menyiapkan tetek-bengek untuk esok hari.
Sementara suami saya, hal pertama yang dia lakukan begitu tiba di rumah adalah menyalakan TV, makan, main-main sebentar dengan anak, kemudian… tidur.
Cukup bisa ditebak, ya?

Kita, para ibu, memang terlahir untuk jadi multitasker. There cannot be only one thing on our mind at the same time!

Gambar dari sini

Sembari tergeletak kelelahan di malam hari, saya jadi berpikir, seandainya situasi dibalik, dan saya menjadi seorang ayah – yang juga bekerja – seperti apakah perbedaannya?

Rasanya sih, first and foremost, saya akan disebut “ayah” saja, bukannya ayah (yang) bekerja.
Ladies pernah perhatikan nggak, kalau nggak ada istilah ‘working father,’ ‘smart dad,’ atau ‘powerful dad,’ disebut-sebut dalam artikel parenting, buku, atau majalah wanita?
Karenanya, saya nggak pernah membaca artikel dengan judul
“Tips Sukses di Kantor dan di Rumah untuk Para Ayah!” atau
“Apakah Titel Ayah Berarti Akhir Karir Seorang Pria?” atau
“Trik ‘Me Time’ untuk Para Ayah.”

Lagian kalau saya working dad, waktu yang saya gunakan untuk hangout atau olahraga bareng teman-teman pasti nggak akan disebut “me time,” tapi ya cukup hangout atau olahraga saja.

Nah, sekarang urusan karir.
Seandainya saya seorang working dad, kayaknya saya nggak akan mumet memikirkan apa jadinya kalau saya naik pangkat, deh! Karena bukannya senang atau bangga, saya justru khawatir jika itu terjadi, membayangkan waktu untuk anak yang akan berkurang.

Kalau saya seorang working dad, kemungkinan saya dituduh “ambisius” atau “workaholic” rasanya hampir tidak ada jika saya bisa menanjaki tangga karir lebih cepat dari rekan-rekan kerja (pria) lain. Or worse, digosipin dekat sama bos besar yang kebetulan laki-laki.

Kalau saya seorang working dad, mungkin saya nggak akan berubah ‘ganas’ ketika PMS menghadang (begitupun saat menstruasi, atau post-menstruasi hihihi).
Tapi saat saya bersikap tegas atau trying to be authoritative, saya nggak akan dicap emosional atau bahkan “bitchy.” Saya malah akan dipandang “berwibawa” dan “memberikan arahan yang jelas.”

Kalau saya seorang “working dad,” saya bayangkan saya juga nggak akan merasa (terlalu) bersalah saat harus pulang malam dari kantor akibat lembur. Nggak akan kebat-kebit membatin apakah anak saya sudah makan-tidur-ngerjain PR-dan seterusnya karena saya telat pulang. Begitupun saat harus dinas ke luar kota beberapa hari.
Lalu kalau anak sakit, orang nggak akan bertanya pada saya, “Ayahnya ke mana, sih?” (Sungguh ini pertanyaan paling menusuk-nusuk batin!)

Kalau saya seorang working dad, jika saat pulang kerja saya langsung cuci piring+nyetrika+ngelonin anak, saya pasti akan menabur pujian dan kekaguman, “Woww, you are an amazing husband!”
Tapi, saat baru punya anak – yang kebetulan kolik atau rewel – saya akan dimaafkan kalau malamnya jatuh tertidur alih-alih melotot sepanjang malam.

Gambar dari sini

Sebagai working dad, saya tidak akan dinilai dari apakah saya bisa “have it all” atau tidak. Nggak akan ada tuntutan untuk bisa menyeimbangkan urusan rumah, anak dan pekerjaan.
Saya tau karena saat arisan keluarga, nggak ada yang bertanya pada suami saya, “Kasihan, dong, anakmu ditinggal kerja, Trus di rumah sama siapa?”

Walhasil…
Kalau saya seorang working dad, saat punya kuasa, saya akan membuat peraturan kerja yang lebih ramah bagi ibu bekerja. Ruang pompa ASI pasti nomor satu di daftar saya, kalau bisa malah ada daycare yang bagus dan terpercaya.
Saya nggak akan memandang seorang ibu bekerja “kurang produktif” karena harus cuti melahirkan, izin saat anak sakit, atau mengurus sekolah anak. Because raising a child is also a part of building a nation.

Dan akhirnya, kalau saya seorang working dad, saya nggak akan menyuruh istri saya “di rumah saja.” Karena saya tahu betapa saya merasa berarti saat bisa menggeluti suatu bidang pekerjaan dan menjadi mahir di dalamnya.
Saya akan mendukung apapun pilihan istri saya, dan berusaha mencari jalan tengah yang terbaik untuk keluarga.

Jadi ibu – bekerja atau tidak – memang tidak pernah lepas dari sorotan, penilaian, bahkan penghakiman. Akan selalu ada banyak pihak yang merasa lebih tahu bagaimana kita seharusnya menjalani peran kita.
Tapi juga karena kita seorang ibu, first and foremost, kita punya privilege untuk mengajarkan anak-anak kita tentang banyak hal… Bisa jadi tentang bagaimana cara jadi tough dan mandiri, atau tentang etos kerja yang baik lewat multitasking yang sudah mendarah-daging, ataupun tentang menghargai dan memandang setara perempuan.

*****

Memaparkannya begini, mau nggak mau membuat saya ingin berterima kasih pada pak suami. Meski ia selalu tidur lebih dulu daripada saya, ternyata kalau dipikir-pikir, ia nggak resek dan juga nggak cuek-cuek amat jadi suami. Terbukti, saya bisa bebas memilih mau jadi ibu rumah tangga atau bekerja dan selalu didukung, apapun pilihan saya.

Hmm, benar begitu atau jangan-jangan dia menuruti saja apa kemauan saya, ya? Because I am, after all,  “Always Right”? Hihihi…

(RT)

Advertisements

One comment

  1. Ah, i love this piece of writing! Emang ya kalo dipikir-pikir, kenapa harus selalu kita yang merasa bertanggungjawab penuh terhadap hal apapun yang ada di keluarga? Padahal kan kita bukan kepala rumah tangga. Jadi kalo misalnya ada yang bilang sesungguhnya yang menjalankan roda rumah tangga tetap berputar adalah kita para perempuan, oh so right!

    Thanks for sharing this πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: